LAPORAN AKHIR MODUL 2
1. Fixed Bias
Tabel 4.1 Percobaan fixed bias
|
Parameter |
Nilai Pengukuran |
|
Vrb |
11,2 V |
|
Vrc |
12,4 V |
|
Vb |
0,62 V |
|
Vc |
0,54 V |
Vbe |
0,63 V |
|
Vce |
0,15 V |
Ib |
0,13 A |
Ic |
0,082 A |
|
Gelombang Input |
Gelombang Output |
2. Emitter Stabillized Bias
Tabel 4.2 Percobaan emitter stabillized bias
|
Parameter |
Nilai Pengukuran |
|
Vrb |
12,38 V |
Vrc |
2,78 V |
Vre |
2,26 V |
Vb |
12,33 V |
Vc |
7,34 V |
Ve |
2,27 V |
Vbe |
3,69 V |
Vce |
6,2 V |
Ib |
0,01 A |
Ic |
0,004 A |
|
Gelombang Input |
Gelombang Output |
3. Self Bias
Tabel 4.3 Percobaan self bias
|
Parameter |
Nilai Pengukuran |
|
Vrc |
0,388 V |
|
Vrb |
0,809 V |
|
Vre |
11,27 V |
|
Vb |
11,92 V |
|
Vc |
11,28 V |
Ve |
11,27 V |
Vbe |
0,6 V |
Vce |
0,35 V |
Ib |
1,12 mA |
Ic |
1,32 mA |
|
Gelombang Input |
Gelombang Output |
4. Voltage Divider Bias
Tabel 4.4 Percobaan voltage divider bias
|
Parameter |
Nilai Pengukuran |
|
VR1 & VR2 |
12,36 V |
|
Vrc |
2,34 V |
|
Vre |
2,33 V |
|
Vb |
0,22 V |
|
Vc |
10 V |
Ve |
2,3 V |
Vbe |
0,76 V |
|
Vce |
7,68 V |
Ib |
0,123 A |
Ic |
0,022 A |
|
Gelombang Input |
Gelombang Output |
|
|
5. Power IC dengan Regulator
|
Ic |
Vin |
Kapasitor |
Resistor |
Vout |
|
7805 |
5 V | 0,1 uF dan 1 uF |
33 Ω |
7,2 V |
|
7809 |
12 V | 0,1 uF dan 10 uF |
220 Ω |
9,02 V |
7812 |
12 V |
1 uF dan 10 uF |
220 Ω |
10,72 V |
1. Fixed Bias
Pertama, pada rangkaian fixed bias sebuah resistor basis (RB) dihubungkan langsung dari sumber catu daya VCC ke basis transistor sehingga basis menerima tegangan tetap dari VCC. Kedua, arus basis kira-kira dapat diperkirakan dengan rumus IB ≈ (VCC − VBE)/RB, di mana VBE sekitar 0,7 V untuk transistor silikon; arus kolektor kemudian kira-kira IC ≈ β·IB. Ketiga, karena nilai IB ditentukan oleh RB dan VCC saja, perubahan parameter transistor seperti β atau perubahan suhu menyebabkan perubahan besar pada IC dan perpindahan Q-point; oleh karena itu rangkaian ini kurang stabil. Keempat, keunggulan rangkaian ini adalah kesederhanaan dan sedikit komponen, sedangkan kelemahannya adalah sensitivitas tinggi terhadap variasi transistor dan suhu sehingga jarang dipakai bila diperlukan kestabilan.
2. Emitter
Stabilized Bias (Bias dengan Resistor Emitter)
Pertama, rangkaian emitter stabilized memasang resistor pada emitter (RE)
sehingga emitter tidak langsung ke ground tetapi melalui RE. Kedua, ketika arus
kolektor cenderung naik, arus emitter ikut naik sehingga tegangan emitter VE =
IE·RE meningkat dan akibatnya VBE efektif (VB − VE) berkurang; pengurangan VBE
ini menurunkan arus basis IB dan menahan kenaikan IC—itulah mekanisme umpan
balik negatif. Ketiga, secara praktis arus dan tegangan kerja dapat didekati
dengan IE ≈ (VB − VBE)/RE sehingga RE menstabilkan IE dan IC terhadap perubahan
β dan suhu. Keempat, efek sampingnya adalah sebagian tegangan sinyal hilang di
RE (pengurangan gain) sehingga sering dipasang juga kapasitor bypass pada RE
untuk mengembalikan gain pada frekuensi sinyal.
3. Self
Bias (Collector-Feedback Bias atau Bias Otomatis)
Pertama, pada konfigurasi self bias terdapat resistor yang menghubungkan
kolektor ke basis sehingga tegangan base bias bergantung pada tegangan
kolektor. Kedua, bila IC meningkat maka tegangan pada kolektor VC turun (karena
drop di RC menjadi lebih besar); penurunan VC itu menurunkan tegangan yang
diberi ke basis sehingga IB menurun dan IC kembali turun — ini menghasilkan
stabilisasi otomatis melalui feedback dari kolektor. Ketiga, mekanisme ini
lebih stabil daripada fixed bias karena adanya feedback negatif, namun masih
kurang stabil dibandingkan voltage divider bias karena basis masih dipengaruhi
langsung oleh kondisi kolektor dan β transistor tetap memberi kontribusi pada
variasi. Keempat, desain self bias relatif sederhana dan berguna bila ingin menambahkan
stabilitas tanpa rangkaian pembagi tegangan yang lengkap.
4. Voltage
Divider Bias (Bias Pembagi Tegangan)
Pertama, metode ini membentuk pembagi tegangan dari dua resistor (R1 dan
R2) antara VCC dan ground sehingga titik antara R1 dan R2 memberi tegangan
basis VB yang hampir tetap menurut VB = VCC·R2/(R1+R2). Kedua, nilai VB
menetapkan arus emitter dan kolektor melalui hubungan IE ≈ (VB − VBE)/RE
sehingga IC ≈ IE (dengan IB kecil dibanding IE), sehingga titik kerja menjadi
relatif independen dari β transistor. Ketiga, untuk memastikan VB tidak banyak
berubah akibat arus basis, arus lewat jaringan pembagi biasanya dibuat beberapa
kali lebih besar daripada IB (praktik umum: 5–10 kali IB), sehingga basis tidak
“menarik” tegangan pembagi. Keempat, bila IC berubah karena suhu atau variasi
β, perubahan VE melalui RE mengurangi atau meningkatkan VBE sehingga ada umpan
balik negatif yang menahan pergeseran Q-point; kombinasi pembagi tegangan dan
resistor emitter menjadikan metode ini paling stabil dan paling sering dipakai
pada rangkaian amplifier.
5. Power
IC dengan Regulator
Pertama, tujuan utama power IC regulator adalah menjaga tegangan keluaran
tetap konstan walaupun tegangan input atau arus beban berubah. Kedua, pada
regulator linear prinsip kerjanya adalah memakai referensi tegangan internal
dan sebuah amplifier kesalahan yang membandingkan tegangan keluaran dengan
referensi; keluaran amplifier mengendalikan transistor pass seri sehingga
tegangan keluar disetel dengan terus-menerus mengubah drop pada transistor
tersebut. Ketiga, kelemahan regulator linear adalah efisiensi rendah karena
selisih tegangan Vin−Vout diubah menjadi panas pada transistor pass, sehingga
daya hilang sebanding dengan (Vin − Vout)·Iout. Keempat, pada switching
regulator prinsipnya berbeda: transistor switching menyalakan dan mematikan
dengan frekuensi tinggi dan duty cycle dikontrol oleh loop umpan balik;
komponen seperti induktor dan kapasitor menyaring bentuk pulsa menjadi tegangan
DC yang diinginkan sehingga efisiensi jauh lebih tinggi dan disipasi daya
menjadi kecil. Kelima, regulator terpadu biasanya berisi rangkaian referensi
tegangan, penguat kesalahan, elemen pass atau switch, dan jaringan umpan balik
sehingga pengguna hanya perlu sedikit komponen eksternal; contoh IC yang umum
dipakai adalah seri 78xx (regulator linear tetap) dan LM317 (linear yang bisa
disetel), sedangkan pada switching ada IC controller buck, boost, atau
buck-boost.
1. PENJELASAN KONDISI
3. Percobaan Rangkaian Emitter Stabillized Bias
4. Percobaan Rangkaian Self Bias
5. Percobaan Rangkaian Voltage Divider
6. Percobaan Rangkaian Power Ic dengan Regulator
1. Analisa
prinsip kerja dari rangkaian self bias berdasarkan nilai parameter yang
didapatkan ketika percobaan.
Jawab :
Self bias pada transistor BJT merupakan metode biasing di mana resistor dipasang di emitter (Re) dan base (Rb) sehingga terjadi umpan balik otomatis (feedback) untuk menstabilkan titik kerja (Q-point). Tujuannya adalah menjaga transistor tetap pada daerah aktif meskipun ada variasi β (gain transistor) atau perubahan temperatur.
Analisa berdasarkan parameter hasil pengukuran :
- Vb
= 11,92 V dan Ve = 11,27 V
→Didapat Vbe = 0,6 V, yang sesuai dengan karakteristik transistor silikon (Vbe ≈ 0,6 – 0,7 V). Ini menunjukkan transistor bekerja normal dan berada di region aktif. - Vc
= 11,28 V dan Ve = 11,27 V
→ Didapat Vce = 0,35 V, nilai ini sangat kecil (mendekati saturasi). Hal ini mengindikasikan bahwa transistor sebenarnya hampir memasuki region saturasi, bukan murni aktif. - Arus
basis (Ib) = 1,12 mA dan Arus kolektor (Ic) = 1,32 mA
→ Rasio β = Ic/Ib ≈ 1,18. Nilai ini sangat rendah dibanding transistor normal (β biasanya 50 – 200). Ini kemungkinan karena transistor sudah mendekati saturasi sehingga Ic tidak bertambah signifikan meskipun Ib relatif besar. - Tegangan
pada resistor kolektor (Vrc) = 0,388 V
→ Menunjukkan penurunan tegangan kecil di Rc, yang konsisten dengan arus kolektor yang relatif kecil. - Tegangan emitter (Ve = 11,27 V) sangat tinggi mendekati tegangan suplai (jika Vcc ≈ 12 V). Hal ini juga memperkuat bahwa transistor hampir jenuh, karena Vc ≈ Ve.
Kesimpulan analisa
- Rangkaian
self bias bekerja dengan prinsip umpan balik emitter resistor
(Re) yang menstabilkan tegangan basis-emitter (Vbe).
- Dari
hasil percobaan:
- Transistor
berada hampir saturasi (Vce = 0,35 V).
- Vbe
= 0,6 V sesuai dengan karakteristik normal.
- Nilai
β yang kecil menunjukkan transistor tidak bekerja pada kondisi aktif
penuh, melainkan terbatas arusnya karena kondisi mendekati saturasi.
- Secara
keseluruhan, rangkaian self bias tetap berfungsi menyalakan transistor,
tetapi setting resistor mungkin menyebabkan titik kerja (Q-point) tidak
ideal, sehingga transistor belum stabil di region aktif tengah
(yang seharusnya memberikan Vce sekitar setengah dari Vcc).
2. Analisa
prinsip kerja dari rangkaian voltage divider bias berdasarkan nilai
parameter yang didapatkan ketika percobaan.
Jawab :
Rangkaian voltage divider bias seharusnya
menghasilkan tegangan basis VB lebih besar sekitar 0,7 V dibanding
tegangan emitter (VE). Dengan kondisi ini, transistor bekerja pada daerah
aktif, sehingga VCE bernilai beberapa volt dan arus kolektor mengikuti
penguatan arus dasar (IC=βIB).
Dari tabel pengukuran:
- VE=2,3 V
- VB=0,22 V
- VC=10 V
- VCE=7,68 V
- IB=0,123 A
- IC=22 A
Seharusnya nilai VB lebih besar daripada VE sekitar 0,7 V (VB≈VE+0,7≈3,0 V).
Namun hasil pengukuran menunjukkan VB jauh lebih kecil dibanding VE. Kondisi
ini tidak konsisten dengan teori, karena:
- Dengan
VB < VE, transistor seharusnya cut-off, namun IC tetap muncul.
- Nilai
VBE dilaporkan 2,3 V, padahal secara teori untuk transistor silikon hanya
sekitar 0,6–0,7 V.
- Arus penguatan β= (IB / IC)= (0,123 / 0,022) = 0,1789≈0,18, β ≈ 0,18, artinya arus kolektor jauh lebih kecil daripada arus basis. Ini tidak wajar untuk transistor BJT (biasanya β puluhan sampai ratusan).
Hasil pengukuran tidak sesuai dengan teori karena beberapa
kemungkinan:
- Kesalahan
pemasangan komponen
Misalnya polaritas transistor terbalik, atau resistor pembagi (R1, R2) salah posisi, sehingga basis tidak mendapat bias yang benar. - Kesalahan
pengukuran
Probe voltmeter salah titik referensi (ground), sehingga nilai VBV_BVB dan VEV_EVE tidak konsisten. - Nilai
resistor tidak sesuai desain
Resistor pembagi tegangan bisa terlalu besar/kecil, sehingga tegangan basis tidak cukup untuk memberi bias maju pada emitor. - Kurang
telitinya praktikan
3. Analisa pengaruh variasi kapasitor dan resistor terhadap output pada rangkaian power supply dengan IC Regulator.
Jawab :
IC regulator seri 78xx berfungsi menghasilkan tegangan
keluaran tetap sesuai tipenya (7805 = 5 V, 7809 = 9 V, 7812 = 12 V). Kapasitor
input (0,1 µF) dipakai untuk meredam gangguan frekuensi tinggi, sedangkan
kapasitor output (1 µF atau 10 µF) menjaga kestabilan tegangan dengan
mengurangi ripple. Resistor digunakan sebagai beban untuk menguji kestabilan
regulator saat mengalirkan arus.
Hasil Pengukuran :
- IC
7805 menghasilkan Vout = 7,2 V (lebih tinggi dari nominal 5 V).
- IC
7809 menghasilkan Vout = 9,02 V (mendekati nominal 9 V).
- IC
7812 menghasilkan Vout = 10,72 V (lebih rendah dari nominal 12 V)
Secara teori, variasi kapasitor membantu menstabilkan output dan resistor beban
menjaga regulator bekerja normal. Namun, hasil pengukuran menunjukkan adanya
penyimpangan dari spesifikasi. IC 7809 paling mendekati nilai nominal,
sedangkan IC 7805 dan 7812 menunjukkan deviasi yang cukup besar. Hal ini
kemungkinan disebabkan oleh kualitas IC yang sudah menurun, kesalahan toleransi
komponen, atau faktor rangkaian uji yang tidak ideal.
Download Laporan Akhir [Klik Disini]
Link Video Rangkaian Kondisi [Klik Disini]
Link Video Rangkaian Fixed Bias [Klik Disini]
Link Video Rangkaian Emitter Stabillized Bias [Klik Disini]
Link Video Rangkaian Self Bias [Klik Disini]
Link Video Rangkaian Power Ic dengan Regulator [Klik Disini]
Komentar
Posting Komentar