NON-INVERTING ADDER AMPLIFIER 3 INPUT
Non-Inverting Adder Amplifier adalah rangkaian
elektronik yang menggunakan Operational Amplifier (Op-Amp) untuk menggabungkan
beberapa sinyal masukan dengan tegangan yang berbeda menjadi satu sinyal
keluaran. Rangkaian ini juga dikenal sebagai summing amplifier atau
adder.Aplikasi umum Non-Inverting Adder Amplifier adalah dalam rekaman musik
dan aplikasi penyiaran, di mana beberapa sinyal mikrofon digabungkan menjadi
satu sinyal stereo (kiri dan kanan).
Jadi, Non-Inverting Adder Amplifier adalah alat
yang memungkinkan kita untuk menggabungkan sinyal-sinyal tegangan menjadi satu
sinyal keluaran dengan fase yang sama.
- Memahami
prinsip kerja dan pengaplikasian Non-Inverting Adder Amplifier
- Mengetahui
variasi penggunaan op amp sebagai non inverting amplifier.
- Mampu
mensimulasikan rangkaian proteus
ALAT
a). Osiloskop
Osiloskop adalah alat ukur elektronik yang dapat digunakan
untuk memproyeksikan frekuensi dan sinyal listrik. Proyeksi frekuensi dan
sinyal listrik tersebut dinyatakan dalam bentuk grafik. Terdapat dua sumbu
dalam grafik tersebut yaitu sumbu X dan sumbu Y. Sumbu X menyatakan satuan
waktu, sedangkan sumbu Y menyatakan nilai tegangan.
b). Voltmeter
Voltmeter AC adalah alat pengukur listrik yang digunakan untuk
mengukur tegangan listrik AC (Arus Bolak-Balik). Voltmeter AC digunakan untuk
mengukur tegangan yang berubah-ubah dengan frekuensi yang berbeda-beda.
c). AC Power Supply
AC power supply berfungsi memberikan tegangan AC pada rangkaian.
BAHAN
a). Op Amp
Operasional amplifier atau yang lebih sering disebut op amp
merupakan suatu komponen elektronika analog yang berfungsi sebagai penguat atau
amplifier multiguna yang diwujudkan dalam sebuah IC op amp. Penguat ini
mempunyai dua buah masukan yaitu input inverting dan input non inverting serta
satu buah keluaran (output).
b). Resistor
Resistor adalah sebuah komponen elektronika yang terdiri dari
dua pin yang berfungsi sebagai alat untuk mengatur tegangan listrik dan arus
listrik. Simbol resistor dilambangkan dengan huruf R dan satuan resistor
adalah ohm (Ω).
Adder atau penjumlahan sinyal dengan OP-AMP
adalah konfigurasi OP-AMP sebagai penguat dengan diberikan input
lebih dari satu untuk menghasilkan sinyal output yang linear sesuai dengan
nilai penjumlahan sinyal input dan faktor penguatan yang ada.
Pada umumnya rangkaian adder adalah rangkaian
penjumlah dasar yang disusun dengan penguat inverting atau non-inverting yang
diberikan input lebih dari 1 line.
Rangkaian Adder/Penjumlahan Non-Inverting atau
disebut Non-Inverting Adder Amplifier memiliki penguatan
tegangan yang tidak melibatkan nilai resistansi input yang digunakan. Oleh
karena itu pada penjumlahan non-inverting nilai resistor input (R1, R2, R2)
sebaiknya bernilai sama persis, hal ini bertujuan untuk mendapatkan kestabilan
dan akurasi penjumlahan sinyal yang diberikan ke rangkaian.
Pada rangkaian Non-Inverting Adder
Amplifier, sinyal input (V1, V1, V3) diberikan ke jalur input melalui
resistor input masing-masing (R1, R2, R3). Besarnya penguatan tegangan (Av)
pada rangkaian penguat penjumlahan Non-Inverting diatas diatur oleh resistor
feedback (Rf) dan resistor inverting (Ri), sehingga dapat dirumuskan dengan :
Teori mengenai rangkaian Non-Inverting
Adder Amplifier dengan menggunakan teorema superposisi :
- Anggap
jika Va berjalan sendiri, Vb = 0
- Anggap
jika Vb berjalan sendiri, Va = 0
- Maka
nilai dari V1 adalah
- Diketahui
bahwa nilai Vo = Va + Vb , maka untuk pembuktiannya :
Misalkan Ra = Rb = R
Misalkan Rf = Ri = R
Nilai Tegangan Output adalah sebesar Vo = Av.Vin
Karena nilai Vin = V1
- Maka
Nilai dari Vo = Va + Vb inilah yang disebut sebagai Adder
Dengan diketahuinya nilai penguatan tegangan
pada rangkaian penjumlahan non-inverting tersebut dapat dirumuskan besarnya
tegangan output (Vout) rangkaian. Secara matematis rumus dari Vout :
Rangkaian adder/penjumlahan non-inverting ini
jarang digunakan dalam aplikasi rangkaian elektronika, karena nilai outputnya
adalah hasil kali rata-rata tegangan input dengan faktor penguatan (Av)
sehingga nilai penjumlahan tegangan merupakan hasil rata-rata sinyal input dan
penguatan tegangan belum sesuai dengan kaidah penjumlahan.
Resistor
Simbol :
Resistor adalah komponen elektronika pasif yang memiliki nilai resistansi atau hambatan tertentu yang berfungsi untuk membatasi dan mengatur arus listrik dalam suatu rangkaian elektronika (v=i r).
Jenis resistor yang digunakan disini adalah fixed resistor, dimana merupakan resistor dengan nilai tetap terdiri dari film tipis karbon yang diendapkan subtrat isolator kemudian dipotong berbentuk spiral. Keuntungan jenis fixed resistor ini dapat menghasilkan resistor dengan toleransi yang lebih rendah.
Cara menghitung nilai resistor:
Tabel warna
Contoh :
Gelang ke 1 : coklat = 1
Gelang ke 2 : hitam = 0
Gelang ke 3 : hijau = 5 nol dibelakang angka gelang ke-2; atau kalikan 105
Gelang ke 4 : perak = toleransi 10%
Maka nilai resistor tersebut adalah 10 * 105 = 1.000.000 ohm atau 1 mohm dengan toleransi 10%.
Dioda
Spesifikasi
Dioda adalah komponen yang terbuat dari bahan semikonduktor dan mempunyai fungsi untuk menghantarkan arus listrik ke satu arah tetapi menghambat arus listrik dari arah sebaliknya. Sebuah dioda dibuat dengan menggabungkan dua bahan semi-konduktor tipe-p dan semi-konduktor tipe-n. Ketika dua bahan ini digabungkan, terbentuk lapisan kecil lain di antaranya yang disebut depletion layer. Ini karena lapisan tipe-p memiliki hole berlebih dan lapisan tipe-n memiliki elektron berlebih dan keduanya mencoba berdifusi satu sama lain membentuk penghambat resistansi tinggi antara kedua bahan seperti pada gambar di bawah ini. Lapisan penyumbatan ini disebut depletion layer.
Ketika tegangan positif diterapkan ke anoda dan tegangan negatif diterapkan ke katoda, dioda dikatakan dalam kondisi bias maju. Selama keadaan ini tegangan positif akan memompa lebih banyak hole ke daerah tipe-p dan tegangan negatif akan memompa lebih banyak elektron ke daerah tipe-n yang menyebabkan depletion layer hilang sehingga arus mengalir dari anoda ke katoda. Tegangan minimum yang diperlukan untuk membuat dioda bias maju disebut forward breakdown voltage.
Jika tegangan negatif diterapkan ke anoda dan tegangan positif diterapkan ke katoda, dioda dikatakan dalam kondisi bias terbalik. Selama keadaan ini tegangan negatif akan memompa lebih banyak elektron ke material tipe-p dan material tipe-n akan mendapatkan lebih banyak hole dari tegangan positif yang membuat depletion layer lebih besar dan dengan demikian tidak memungkinkan arus mengalir melaluinya. Kondisi ini hanya terjadi pada dioda yang ideal, kenyataannya arus yang kecil tetap dapat mengalir pada bias terbalik dioda.
Dioda dapat dibagi menjadi beberapa jenis:
1. Dioda penyearah (dioda biasa atau dioda bridge) yang berfungsi sebagai penyearah arus ac ke arus dc.
2. Dioda zener yang berfungsi sebagai pengaman rangkaian dan juga sebagai penstabil tegangan.
3. Dioda led yang berfungsi sebagai lampu indikator ataupun lampu penerangan.
4. Dioda photo yang berfungsi sebagai sensor cahaya.
5. Dioda schottky yang berfungsi sebagai pengendali.Untuk menentukan arus zenner berlaku persamaan:
Keterangan:
Pada grafik terlihat bahwa pada tegangan dibawah ambang batas tegangan mundur (reverse) sebuah dioda akan tembus (menghantar) dan tidak bisa menahan lagi. Batas ini disebut dengan area tegangan breakdown dioda. Kondisi dioda pada area ini adalah tembus atau menghantar dan tidak menghambat. Kemudian pada level tegangan diantara tegangan breakdown dan tegangan forward terdapat area tegangan reverse dan tegangan cut off. Pada area ini kondisi dioda adalah menahan atau tidak mengalirkan arus listrik.
Transistor
Transistor adalah sebuah komponen di dalam elektronika yang diciptakan dari bahan-bahan semikonduktor dan memiliki tiga buah kaki. Masing-masing kaki disebut sebagai basis, kolektor, dan emitor.
1. Emitor (e) memiliki fungsi untuk menghasilkan elektron atau muatan negatif.
2. Kolektor (c) berperan sebagai saluran bagi muatan negatif untuk keluar dari dalam transistor.
3. Basis (b) berguna untuk mengatur arah gerak muatan negatif yang keluar dari transistor melalui kolektor.
Berfungsi sebagai penguat, sebagai sirkuit pemutus dan penyambung arus (switching), stabilisasi tegangan, dan modulasi sinyal. Selain itu, transistor biasanya juga dapat digunakan sebagai saklar dalam rangkaian elektronika. Jika ada arus yang cukup besar di kaki basis, transistor akan mencapai titik jenuh. Pada titik jenuh ini transistor mengalirkan arus secara maksimum dari kolektor ke emitor sehingga transistor seolah-olah short pada hubungan kolektor-emitor. Jika arus base sangat kecil maka kolektor dan emitor bagaikan saklar yang terbuka. Pada kondisi ini transistor dalam keadaan cut off sehingga tidak ada arus dari kolektor ke emitor.
Rumus-rumus transistor:
Spesifikasi :
Bi-polar transistor
Dc current gain (hfe) is 800 maximum
Continuous collector current (ic) is 100ma
Emitter base voltage (vbe) is > 0.6v
Base current(ib) is 5ma maximum
Konfigurasi transistor
Konfigurasi common base adalah konfigurasi yang kaki basis-nya di-ground-kan dan digunakan bersama untuk input maupun output. Pada konfigurasi common base, sinyal input dimasukan ke emitor dan sinyal output-nya diambil dari kolektor, sedangkan kaki basis-nya di-ground-kan. Oleh karena itu, common base juga sering disebut dengan istilah “grounded base”. Konfigurasi common base ini menghasilkan penguatan tegangan antara sinyal input dan sinyal output namun tidak menghasilkan penguatan pada arus.
Konfigurasi common collector (cc) atau kolektor bersama memiliki sifat dan fungsi yang berlawan dengan common base (basis bersama). Kalau pada common base menghasilkan penguatan tegangan tanpa memperkuat arus, maka common collector ini memiliki fungsi yang dapat menghasilkan penguatan arus namun tidak menghasilkan penguatan tegangan. Pada konfigurasi common collector, input diumpankan ke basis transistor sedangkan outputnya diperoleh dari emitor transistor sedangkan kolektor-nya di-ground-kan dan digunakan bersama untuk input maupun output. Konfigurasi kolektor bersama (common collector) ini sering disebut juga dengan pengikut emitor (emitter follower) karena tegangan sinyal output pada emitor hampir sama dengan tegangan input basis.
Konfigurasi common emitter (ce) atau emitor bersama merupakan konfigurasi transistor yang paling sering digunakan, terutama pada penguat yang membutuhkan penguatan tegangan dan arus secara bersamaan. Hal ini dikarenakan konfigurasi transistor dengan common emitter ini menghasilkan penguatan tegangan dan arus antara sinyal input dan sinyal output. Common emitter adalah konfigurasi transistor dimana kaki emitor transistor di-ground-kan dan dipergunakan bersama untuk input dan output. Pada konfigurasi common emitter ini, sinyal input dimasukan ke basis dan sinyal output-nya diperoleh dari kaki kolektor.
Op amp 741
Op-amp adalah salah satu dari bentuk ic linear yang berfungsi sebagai penguat sinyal listrik. Sebuah op-amp terdiri dari beberapa transistor, dioda, resistor dan kapasitor yang terinterkoneksi dan terintegrasi sehingga memungkinkannya untuk menghasilkan gain (penguatan) yang tinggi pada rentang frekuensi yang luas. Dalam bahasa indonesia, op-amp atau operational amplifier sering disebut juga dengan penguat operasional.
Karakteristik penguat ideal adalah:
Gain sangat besar (aol >>). Penguatan open loop adalah sangat besar karena feedback-nya tidak ada atau rf = tak terhingga, serta pada rentang frekuensi yang luas.
Impedansi input sangat besar (zi >>). Impedansi input adalah sangat besar sehingga arus input ke rangkaian dalam op-amp sangat kecil sehingga tegangan input sepenuhnya dapat dikuatkan.
Impedansi output sangat kecil (zo <<).
Konfigurasi pin 741:
Spesifikasi:
Respons karakteristik kurva i-o:
- Sensor
MQ-2
Sensor MQ-2 berfungsi untuk mendeteksi keberadaan asap yang
berasal dari gas mudah terbakar di udara. Pada dasarnya sensor ini terdiri dari
tabung aluminium yang dikelilingi oleh silikon dan di pusatnya ada elektroda
yang terbuat dari aurum di mana ada element pemanasnya.
Ketika terjadi proses pemanasan, kumparan akan dipanaskan sehingga
SnO2 keramik menjadi semikonduktor atau sebagai penghantar sehingga melepaskan
elektron dan ketika asap dideteksi oleh sensor dan mencapai aurum elektroda
maka output sensor MQ-2 akan menghasilkan tegangan analog.
Spesifikasi sensor pada sensor gas MQ-2 adalah sebagai berikut:
-
Catu daya pemanas : 5V AC/DC
-
Catu daya rangkaian : 5VDC
-
Range pengukuran : 200 - 5000ppm untuk LPG, propane 300 - 5000ppm
untuk butane 5000 - 20000ppm untuk methane 300 -
5000ppm untuk Hidrogen
-
Keluaran : analog (perubahan tegangan)
konfigurasi dari sensor MQ-S :
-
Pin 1 merupakan heater internal yang terhubung dengan ground.
-
Pin 2 merupakan tegangan sumber (VC) dimana Vc < 24 VDC.
-
Pin 3 (VH) digunakan untuk tegangan pada pemanas (heater internal)
dimana VH = 5VDC.
-
Pin 4 merupakan output yang akan menghasilkan tegangan analog.
Berdasarkan grafik diatas, dapat dilihat bahwa
konsentrasi minimum yang dapat diuji adalah 100ppm dan maksimumnya 10000ppm
atau konsentrasi gasnya antara 0.01% dan 1%. Namun, rumusnya tidak dapat
ditentukan karena hubungan grafik antara rasio dan konsentrasi adalah
nonlinear.
- Sound
Sensor
Sensor Suara adalah sensor yang memiliki cara kerja merubah
besaran suara menjadi besaran listrik. Pada dasarnya prinsip kerja pada alat
ini hampir mirip dengan cara kerja sensor sentuh pada perangkat seperti telepon
genggam, laptop, dan notebook. Sensor ini bekerja berdasarkan besar kecilnya
kekuatan gelombang suara yang mengenai membran sensor yang menyebabkan
bergeraknya membran sensor yang memiliki kumparan kecil dibalik membran
tersebut naik dan turun. Kecepatan gerak kumparan tersebut menentukan kuat lemahnya
gelombang listrik yang dihasilkannya.
Salah satu komponen yang termasuk dalam sensor ini adalah
Microphone atau Mic. Mic adalah komponen eletronika dimana cara kerjanya yaitu
membran yang digetarkan oleh gelombang suara akan menghasilkan sinyal listrik.
Mic dapat diklarifikasikan menjadi beberapa jenis dasar antara
lain; dinamis, piezoelektrik, dan elektrostatik. Mic dinamis adalah contoh alat
yang memiliki sensor suara dengan peran yang besar dalam dunia
industri musik. Sedangkan untuk Mic piezoelektrik digunakan secara luas untuk
mic dengan meter rendah tingkat frekuensi suara. Untuk masalah pengukuran, mic
elektrostatik adalah yang paling populer karena mereka dapat dirampingkan,
memiliki ffrekuensi respon konsekuensi rata selama rentang frekuensi yang luas,
dan menyediakan nyata stabilitas yang tinggi dibandingkan dengan mic jenis
lain. Intensitas suara mic ini dirancang untuk menangkap intensitas suara bersama
dengan unit arah aliran sebagai besaran vektor. Bila dilihat dari intensitas
bunyi, mic dibagi menjadi dua jenis, yaitu arang dan capasitor.
Diperlukan bebrapa komponen dalam pembuatan sensor suara. Komponen
yang diperlukan sangat mudah ditemukan dan memiliki harga yang terjangkau.
Komponen-komponen yang dibutuhkan antara lain; resistor memiliki dua saluran
yang fungsinya untuk menahan arus listrik dengan memproduksi penurunan tegangan
diantara dua salurannya sesuai dengan arus, kondensator, trimpot memiliki
hambatan listrik yang dapat diubah-diubah dengan cara memutar porosnya, dioda
adalah bahan semikonduktor yang dapat menghantar arus listrik pada satu arah
saja, IC (Intergrated Circuit) atau sirkuit, kondensator mic, LED untuk
mengeluarkan emisi cahaya, timah, solder, kabel secukupnya dan lain-lain.
Pin OUT
Spesifikasi
-
Working voltage: DC 3.3-5V
-
Dimensions: 45 x 17 x 9 mm
-
Signal output indication
-
Single channel signal output
-
With the retaining bolt hole, convenient installation
-
Outputs low level and the signal light when there is sound
Grafik Respons Sensor Sound
Sensor suara merupakan module sensor yang mensensing besaran suara
untuk diubah menjadi besaran
listrik yang akan dioleh mikrokontroler.
- Sensor
PIR
Sensor PIR atau disebut juga dengan Passive Infra Red merupakan
sensor yang digunakan untuk mendeteksi adanya pancaran sinar infra merah dari
suatu object. Sesuai dengan namanya sensor PIR bersifat pasif, yang berarti
sensor ini tidak memancarkan sinar infra merah melainkan hanya dapat menerima
radiasi sinar infra merah dari luar. Sensor PIR terdiri dari beberapa
bagian yaitu :
- Fresnel
Lens -->Lensa Fresnel pertama kali digunakan pada
tahun 1980an. Digunakan sebagai lensa yang memfokuskan sinar pada lampu
mercusuar. Penggunaan paling luas pada lensa Fresnel adalah pada lampu
depan mobil, di mana mereka membiarkan berkas parallel secara kasar dari
pemantul parabola dibentuk untuk memenuhi persyaratan pola sorotan
utama.
- IR
Filter -->IR Filter dimodul sensor PIR ini mampu menyaring panjang
gelombang sinar infrared pasif antara 8 sampai 14 mikrometer, sehingga
panjang gelombang yang dihasilkan dari tubuh manusia yang berkisar antara
9 sampai 10 mikrometer ini saja yang dapat dideteksi oleh sensor. Sehingga
Sensor PIR hanya bereaksi pada tubuh manusia saja.
- Pyroelectric
Sensor -->Seperti tubuh manusia yang memiliki suhu
tubuh kira-kira 32 derajat celcius, yang merupakan suhu panas yang khas
yang terdapat pada lingkungan. Pancaran sinar inframerah inilah yang
kemudian ditangkap oleh Pyroelectric sensor yang
merupakan inti dari sensor PIR ini sehingga menyebabkan Pyroelectic
sensor yang terdiri dari galium nitrida, caesium
nitrat dan litium tantalate menghasilkan arus
listrik.
- Amplifier
-->Sebuah sirkuit amplifier yang ada menguatkan arus yang masuk pada
material pyroelectric.
- Komparator-->Setelah dikuatkan oleh amplifier kemudian arus dibandingkan oleh komparator sehingga mengahasilkan output.
Spesifikasi sensor PIR
- Input
Voltage: DC 4.5-20V
- Static
current: 50uA
- Output
signal: 0,3V (Output high when motion detected)
- Sentry
Angle: 110 degree
- Sentry
Distance: max 6/7 m
- Shunt
for setting overide trigger: H - Yes, L - No
- Relay
Relay adalah Saklar (Switch) yang dioperasikan secara listrik dan
merupakan komponen Electromechanical (Elektromekanikal) yang terdiri dari 2
bagian utama yakni Elektromagnet (Coil) dan Mekanikal (seperangkat Kontak
Saklar/Switch). Relay menggunakan Prinsip Elektromagnetik untuk menggerakkan
Kontak Saklar sehingga dengan arus listrik yang kecil (low power) dapat
menghantarkan listrik yang bertegangan lebih tinggi. Sebagai contoh, dengan
Relay yang menggunakan Elektromagnet 5V dan 50 mA mampu menggerakan Armature
Relay (yang berfungsi sebagai saklarnya) untuk menghantarkan listrik 220V 2A.
Dibawah ini adalah gambar bentuk Relay dan Simbol Relay yang
sering ditemukan di Rangkaian Elektronika.
Spesifikasi
Konfigurasi pin
Relay merupakan komponen listrik yang mempunyai 2 bagian yaitu, kumparan dan poin. Secara garis besar relay berfungsi untuk mengendalikan dan mengalirkan listrik.
Prinsip kerja Relay
Pada dasarnya, Relay terdiri dari 4 komponen dasar yaitu :
1. Electromagnet (Coil)
2. Armature
3. Switch Contact Point (Saklar)
4. Spring
Berikut ini merupakan gambar dari bagian-bagian Relay:
Kontak Poin (Contact Point) Relay terdiri dari 2 jenis yaitu :
- Normally Close (NC) yaitu kondisi awal sebelum diaktifkan akan selalu berada di posisi CLOSE (tertutup)
- Normally Open (NO) yaitu kondisi awal sebelum diaktifkan akan selalu berada di posisi OPEN (terbuka)
Berdasarkan gambar diatas, sebuah Besi (Iron Core) yang dililit oleh sebuah kumparan Coil yang berfungsi untuk mengendalikan Besi tersebut. Apabila Kumparan Coil diberikan arus listrik, maka akan timbul gaya Elektromagnet yang kemudian menarik Armature untuk berpindah dari Posisi sebelumnya (NC) ke posisi baru (NO) sehingga menjadi Saklar yang dapat menghantarkan arus listrik di posisi barunya (NO). Posisi dimana Armature tersebut berada sebelumnya (NC) akan menjadi OPEN atau tidak terhubung. Pada saat tidak dialiri arus listrik, Armature akan kembali lagi ke posisi Awal (NC). Coil yang digunakan oleh Relay untuk menarik Contact Poin ke Posisi Close pada umumnya hanya membutuhkan arus listrik yang relatif kecil.
Aplikasi
Rangkaian Aplikasi [Klik Disini]
Rangkaian Op-Amp [Klik Disini]
Komentar
Posting Komentar