FIG 17.61


1. Pendahuluan[Kembali]

Dalam dunia elektronika daya, pengendalian arus dan tegangan yang besar secara efisien dan aman merupakan hal yang sangat penting. Salah satu komponen semikonduktor yang dirancang khusus untuk tujuan ini adalah PNPN atau lebih dikenal dengan thyristor atau Silicon Controlled Rectifier (SCR). Komponen ini terdiri dari empat lapisan semikonduktor yang membentuk tiga junction (P-N-P-N), dan memiliki tiga terminal utama yaitu anoda, katoda, dan gate. SCR berfungsi sebagai saklar elektronik yang hanya membutuhkan sinyal pemicu kecil di gate untuk mengalirkan arus besar dari anoda ke katoda. Keunikan dari SCR adalah kemampuannya mempertahankan kondisi ON meskipun sinyal pemicu telah dilepaskan, selama arus beban tetap di atas nilai minimum tertentu (holding current).

Thyristor digunakan secara luas dalam berbagai aplikasi pengontrol daya seperti peredup lampu (dimmer), pengatur kecepatan motor AC dan DC, pengendali suhu, serta konversi daya pada sistem inverter dan rectifier. Dengan kecepatan switching yang tinggi, efisiensi tinggi, serta kemampuan menangani tegangan dan arus besar, SCR menjadi pilihan utama dalam sistem kontrol industri dan otomasi. Untuk memahami kinerja komponen ini, diperlukan pemahaman tentang prinsip kerja dasar, karakteristik arus-tegangan, serta kondisi pemicuan (trigger) dan pemadaman (turn-off). Oleh karena itu, praktikum atau studi mengenai PNPN sangat penting dalam bidang teknik elektro dan elektronika, khususnya dalam aplikasi elektronika daya dan sistem kontrol otomatis.

 

2. Tujuan[Kembali]

  1. Mengenal struktur dan prinsip kerja komponen PNPN (SCR).
  2. Memahami kondisi penyalaan dan pemadaman (trigger dan turn-off) pada PNPN.
  3. Menganalisis karakteristik arus-tegangan (V-I) dari komponen PNPN.
  4. Mengamati fungsi PNPN sebagai saklar elektronik dalam rangkaian daya.

3. Alat dan Bahan[Kembali]

A. Resistor

Fungsi utama dari resistor adalah membatasi aliran arus. Resistor dapat menahan arus dan memperkecil besar arus. Besar resistansi (kemampuan menahan arus) resistor disesuaikan dengan kebutuhan perangkat elektronika.

B. Kapasitor

Kapasitor adalah komponen elektronik yang berfungsi untuk menyimpan dan melepaskan energi listrik dalam bentuk muatan. Dalam berbagai jenis rangkaian, kapasitor memiliki peran penting, seperti menyaring sinyal untuk menghilangkan noise atau komponen frekuensi tertentu, serta memblokir arus searah (DC) sambil meneruskan arus bolak-balik (AC), yang sering digunakan dalam proses kopling sinyal antar tahap rangkaian.

C. Power supply

Power supply (catu daya) adalah perangkat atau sistem yang menyediakan energi listrik ke beban listrik. Fungsi utamanya adalah untuk mengubah energi listrik dari satu bentuk (biasanya dari sumber utama seperti listrik PLN) menjadi bentuk lain yang sesuai dengan kebutuhan perangkat yang akan dioperasikan.

D. Ground

Ground adalah titik kembalinya arus searah atau titik kembalinya sinyal  bolak balik atau titik patokan dari berbagai titik tegangan dan sinyal listrik dalam rangkaian elektronika.

E. Voltmeter

 

Alat ukur untuk mengukur besar Tegangan dalam satuan Volt

 

F. Oscilloscope

 

 

Osiloskop adalah alat ukur elektronik yang digunakan untuk menampilkan bentuk gelombang sinyal listrik secara grafis pada layar, biasanya dalam bentuk tegangan (sumbu Y) terhadap waktu (sumbu X).

 

G.  Diode

             

 

Dioda (Diode) adalah Komponen Elektronika Aktif yang terbuat dari bahan semikonduktor dan mempunyai fungsi untuk menghantarkan arus listrik ke satu arah tetapi menghambat arus listrik dari arah sebaliknya.

4. Dasar Teori[Kembali]

    PNPN atau dikenal sebagai thyristor merupakan salah satu jenis semikonduktor daya yang memiliki empat lapisan semikonduktor berurutan: P-N-P-N. Struktur ini membentuk tiga junction (J1, J2, dan J3) dan memiliki tiga terminal utama, yaitu anoda (A), katoda (K), dan gate (G). Fungsi utama PNPN adalah sebagai saklar elektronik yang dapat mengalirkan arus besar dari anoda ke katoda setelah diberi sinyal pemicu pada gate. Komponen ini banyak digunakan dalam pengaturan dan pengendalian daya listrik, terutama pada sistem tegangan dan arus tinggi.

            Secara prinsip, PNPN bekerja berdasarkan konsep bistabil, yaitu memiliki dua keadaan stabil: OFF (tidak menghantar) dan ON (menghantar). Dalam kondisi forward bias (anoda positif terhadap katoda), arus tidak akan langsung mengalir karena junction tengah (J2) masih reverse bias. Namun, jika diberikan sinyal pemicu pada gate, maka terjadi injeksi pembawa muatan yang memicu konduksi melalui seluruh struktur PNPN. Setelah konduksi dimulai, gate tidak lagi diperlukan, dan komponen tetap dalam kondisi ON selama arus beban di atas holding current. Untuk mematikan arus (turn-off), arus anoda harus diturunkan di bawah nilai latching current atau diputus seluruhnya.

            PNPN dapat dianalisis secara setara sebagai kombinasi dari dua buah transistor: satu PNP dan satu NPN, yang disusun saling umpan balik. Dalam model ini, arus yang masuk ke gate memperkuat transistor NPN, yang pada gilirannya memperkuat transistor PNP, sehingga terjadi regenerasi internal hingga seluruh struktur menghantar penuh. Fenomena ini menjelaskan bagaimana sinyal kecil pada gate dapat mengaktifkan arus besar dari anoda ke katoda.

Kurva karakteristik arus-tegangan (V-I) dari PNPN terdiri dari tiga wilayah utama:

  1. Forward Blocking Region: Anoda positif terhadap katoda, tetapi belum ada sinyal gate. Arus sangat kecil.
  2. Forward Conduction Region: Setelah diberi sinyal gate, arus meningkat tajam dan tegangan turun—komponen dalam kondisi ON.
  3. Reverse Blocking Region: Katoda lebih positif dari anoda (reverse bias), dan arus hampir nol, mirip dengan dioda biasa.

Rumus sederhana untuk menentukan tegangan dan arus saat kondisi ON, berdasarkan hukum Ohm dan beban yang digunakan:



di mana VT​ adalah tegangan jepit (threshold voltage) pada SCR saat menghantar, biasanya sekitar 1–2 V.

            Dalam aplikasi praktis, SCR digunakan untuk mengatur sudut penyalaan (firing angle) pada arus AC, yang akan menentukan berapa lama SCR dalam kondisi ON selama satu siklus sinyal AC. Dengan teknik ini, daya yang dikirim ke beban bisa dikontrol secara efektif. Aplikasi umum termasuk pengatur lampu, kontrol pemanas, dan konverter daya.

            Dengan memahami karakteristik dasar dan prinsip kerja PNPN, pengguna dapat merancang sistem kontrol daya yang lebih efisien dan handal. Pengetahuan ini sangat penting dalam bidang elektronika daya, otomasi industri, serta sistem konversi energi.

 

5. Example [Kembali]



Example 1


Example 2

Example 3



6.Problem [Kembali]

7. Latihan Soal [Kembali]

1. PUT adalah perangkat berbasis lapisan:

A. npn
B. pnp
C. pnpn

Jawaban benar: C. pnpn
Alasan: PUT adalah perangkat semikonduktor empat lapis dengan susunan p–n–p–n, mirip seperti SCR.

 

2. Dalam rangkaian dasar PUT seperti pada Gambar 17.61, tegangan pada gate (VG) ditentukan oleh:

A. Pembagi tegangan dari RB1 dan RB2
B. Tegangan catu langsung
C. Tegangan di antara A dan K

Jawaban benar: A
Alasan: Gate G pada PUT mendapatkan tegangan VG dari pembagi tegangan antara RB1 dan RB2, yaitu:

 

3. Dua kondisi yang diperlukan agar PUT mulai konduksi adalah:

A. VAK < VG
B. VAK> VG + Von
C. VA​ cukup tinggi untuk mengakibatkan pemicu PUT

Jawaban benar: B dan C
Alasan:

  • PUT mulai konduksi ketika tegangan antara anoda dan katoda (VAK) melebihi VG + V_on (biasanya sekitar 0.7 V).
  • Artinya, tegangan anoda harus cukup tinggi dibandingkan gate, yang ditentukan oleh pembagi RB1–RB2.

 

8.Percobaan[Kembali]




FIG 17.61


9.Link Download[Kembali]

Download Proteus Fig 17.61 [Klik Disini]

Download Datasheet Voltmeter [Klik Disini]

Download Datasheet UPT [Klik Disini]

Download Datasheet Resistor [Klik Disini]

Download Datasheet Baterai [Klik Disini]

Download Video [Klik Disini]

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini